Thursday, December 27, 2012

Angket Introduction to English Literature

MATA KULIAH : Introduction to English Literature JURUSAN / PRODI : Tarbiyah / PBI SEMESTER : V Dosen : Yeni Suprihatin,S.Pd.I Take Home 1.Write the ‘acrostic poetry’ based on your name! 2.Tulis paragraf yang berkaitan tentang cendekiawan muslim Indonesia “Arzyumadi Azra’ dan berikan tanggapan bagi cita-cita -masa depan anda . (dalam bahasa Indonesia) NB : -Mohon dua soal diatas dijawab dengan jujur dan kerjakan sendiri (You are not allowed to have the same answer with your friends) -Print jawaban dalam ukuran kertas Legal dan dikumpul pada tanggal test (sesuai jadwal semeter) -Jika berkenan ‘Acrostic poetry’ kirim ke email : yeni.march@yahoo.com untuk didokumentasikan. -Good luck and thanks ! NILAI TEATHER Ambassador :Pilihan Naskah / cerita 95, Interpretasi (Penjiwaan /penyerapan makna)95, Pemanggungan (setting / penguasaan panggung)97,Artistik (tatarias, tata music, tata sett, tata busana)95. Total :382. Butterfly :Pilihan Naskah / cerita 97, Interpretasi (Penjiwaan /penyerapan makna)95, Pemanggungan (setting / penguasaan panggung)89,Artistik (tatarias, tata music, tata sett, tata busana)95. Total :376. Curious :Pilihan Naskah / cerita 95, Interpretasi (Penjiwaan /penyerapan makna)90, Pemanggungan (setting / penguasaan panggung)93,Artistik (tatarias, tata music, tata sett, tata busana)92. Total :370. Diamond :Pilihan Naskah / cerita 94, Interpretasi (Penjiwaan /penyerapan makna)97, Pemanggungan (setting / penguasaan panggung)96,Artistik (tatarias, tata music, tata sett, tata busana)97. Total :384.

Tuesday, February 7, 2012

AKU DAN BAYANGANKU

AKU DAN BAYANGANKU


Gejolak kian menerka
Sangka selalu bertanya dalam pelik cerita
Senyap rasa pun bukan rintang dalam persaudaraan yang telah terbina
Meski hasta tak mampu bersua
Salam rinduku menyapa malam mu



Malam ini, peri kecil datang kepadamu. Dengan segenap rasa senyap itu, aku dan bayanganku mencoba menepis semua ego. Bayanganku adalah bayangan yang bandel, sangat!!! Betapa tidak, ia menghardikku, bersiul menorehkan sejuta pusaran yang tak membutuhkan ASA. Apapun kau, siapapun kita dalam lakon saat ini. Masih, ku ingin menyebutnya sebagai sang pendengar malam. Saat ku tak mudah mencari muara lain untuk kusinggahkan kegalauanku. Akupun tetap datang tanpa pelabuhan harapan kepadamu. Bahkan, aku tetap ingin menyebutmu sebagai sang pendengar malam. Mari, uraikan senandung rindu kita untuk Rabb Pencipta Alam.

Usah kau hiraukan rintikan hujan yang kubawa, tetaplah dalam lingkaran hasrat yang kau matangkan. Logika menuntun nurani ini untuk merelakan kau tersenyum ditempatmu. Malam ini, ku hanya ingin kau tetap menjadi sang pendengar malam. Saat cerita dulu harus kualami lagi, saat ku harus tetap bertahan disudut petak tempat berlindung dari sang surya. Saat jiwa ku menjerit. Atas nama Perempuan, ku masih tetap bermain peran untuk menimbang patuh dan pejagaan diri. Hingga bertahan dalam 3 tahun 5 bulan 22 hari. Saat ini hitungan itu pun masih terus menanyakan pangkalnya.
.
Wahai, sang pendengar malam. Setitik harapan antara kita adalah luasan Do’a yang bersandar kepada Allah SWT. Bila kalimat itu tidak dapat dipercaya. Lihatlah, Hati kita pasti kan selalu membenarkannya. Tengoklah, karena kita dulu pernah menampiknya. Meski sesaat kita terjungkal dalang lubang yang masing-masing dari kita tidak mengetahui hakikatnya. Marilah, ratakan retakan persaudaraan ini. Hingga suatu hari kita tak kan mampu lagi menyadari apa yang ada dalam retakan itu. Meski dibayanganku masih tersisa aura yang memerikan nasehat kesabaran terhadap peri kecil . Biarkan itu ada dalam warna yang berbeda. Biarkan itu ada dalam rasa yang berbeda. Biarkan itu ada dalam ranah yang berbeda. Sungguh, tanpa kita sadari, kita telah menyapu indahnya persaudaraan yang dulu kita agungkan, hanya dengan Cinta samar yang sesungguhnya kita sendiri tidak mengenalinya. Astagfirullahaladzim 3X. Biarkan kita kembali merasakan nikmat-Nya dalam kasih sayang yang sewajarnya. Bayanganku adalah bayangan yang bandel. Hingga kutak tahu mengapa ku ingin menulis ini semua. Atau bayanganku yang memang bandel.

Wahai sang pendengar malam, jika ini sebagai hiperbola bayanganku. Biarkan sekat mata dan telinga mu merayap sayap. Karena apapun warna kita saat ini. Masih, ku ingin senyummu, senyumku, tak berubah. Meski suatu hari kita menemukan sayap kita masing-masing. Meski kita berada dalam poros masing-masing. Meski detik ini kita dalam pijakan masing-masing. Persaudaraan kan tetap kita agungkan bukan? Betapa kita tidak bahagia jika kita mampu menciptakan kedamaian yang tak bersyarat, disaat sudut hati kita tersentuh jarum atas kelalaian kita masing-masing. Akupun, patut berterima kasih atas duri yang Allah titipkan melaluimu. Saat itu menjadi potongan kecil dari suratan ujian-ujian bagiku dalam menapaki dan memaknai hidup ini.

Wahai sang pendengar malam, saat ini peri kecil ingin menjadi dewasa. Masih, disudut ruangan yang ia jadikan istana yang menemaninya menemukan jalan yang masih dirahasiakan Sang Kholik. Ia tetap bertahan untuk menemukan celah kebebasan yang belum juga dimengerti. Peri kecil kan terus berusaha menjaga diri. Kan terus berusaha menghangatkan hati. Mereka yang bukan sedarah tak akan dijadikan sebagai penghalang dalam mempertaruhkan kepatuhannya terhadap orang tua. Namun, keadaan lebih baik itu pun tetap dinanti aku dan bayanganku. Jika diantara kita tak ada ruang pertemuan di dunia ini, semoga Ridho Allah atas persaudaraan ini selalu menyertai kita, Amin.

Dan kau sang pendengar malam,dimanapun engkau dengarkan saja seperti lalu. Meski kita bukan siapa-siapa. Perdebatan, Permusuhan, bukan kata untuk kita. Wahai sang pendengar malam, izinkan ku tetap menuliskan ini hingga kau bisa membaca tuk kau dengarkan. Wallohua’lam,,

Wednesday, February 1, 2012

Friday, November 26, 2010

Inilah

Friday, 26 November 2010
04.04 AM


Kuhempaskan tubuh ini bersama batin yang merindukan kearifan dalam kelembutan dan kehangatan Cinta kasih. Batin yang menampik nyala cinta dan melantakkan dari tempatnya berengkuh. Aku merasakan keganjilan It’s ridiculous!

Seketika aku menyentak! Menghentak! saat pandangan ini menatap lekat ke segenap luasan ufuk barat. Aku terpenjara pada sikap diri yang berbeda. Seolah jiwa ini tak ada beban I have nothing to lose. Aku hanya merasakan harmoni yang begitu merdu di alam semesta. Sejenak kupejamkan mata, mencari-cari rasa nyaman dalam dinamika yang terserak. Namun, tak kunjung ku mengerti bahasa mereka. Ada cericit yang ceria, kerik yang berirama dan ada desir yang menelisik.
Bagai ubupan, fikiranku pun terus memerah, bertanya-tanya ”Akankah kau yang akan berada disampingku sampai nanti? Who will be in my side until the end? Dan apakah kita tepat menamainya Cinta? Lalu, apakah ini untaian cinta yang tersasar? Ya, aku selalu meletakkan tanda tanya diakhir kalimat. Siapa saja yang pernah berucap selamat tinggal kepada apa yang dicintainya pastilah tahu semuanya. Anyone who has ever said good bye to the best thing in his life knows what it is all about.

Ayuhai, menelisik semua Cinta yang berada pada poros masing-masing. Sang pemilik Cinta yang pasti akan mengasihi kita jika kita mencintai-Nya. Kasih Allah seperti fajar pagi yang tak pernah terlambat bersinar. Sinar-Nya menghangatkan naluri yang beku. Cinta Rosul penentram jiwa (peace-maker) melalui kalimat-kalimat bijaknya. Dan Keikhlasan dua pahlawan asa yang menitahku berjalan. Mendidikku agar aku mendoakanya sepanjang malam , I pray you will be my eyes. “Dan ku perintahkan kepada Manusia (berbuat baik) kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam lemah yang bertambah-tambah, dan menyusuinya dalam dua tahun.bersyukurlah kepda-Ku dan kepada ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (Q.S Luqman : 14)

Masih dihariku yang penuh dengan Cinta, ketegangan atas kebutuhan dan keinginan mencapai titik jenuh (burn-out point). Biarlah titik itu menjadi arti simbolis bagi pemburu Cinta. Karena kepentingan untuk sekitar lebih tinggi dari kepentingan pribadi. “Loyalty to my surrounding ends when loyalty to my self begins “.



Senja Berarak
Disinilah aku, merancang dan bertindak. Ada harapan ditepi senyumku, ada hasrat tuk merengkuh memoar indah kepelukanku. Ya, ku harus merasa! Merasakan keindahan yang tak meragu. I am trully blessed. Melangkah mengenali ”Al-Bashir” di segala sesuatu yang pelik-pelik. Jangan ku gegabah memaknai mutiara hidup juga Cinta (.....in hurry). Sama halnya dengan kendaraan, hidup akan selalu berputar dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.

Cinta,
Biarlah fragmen bersejarah di setiap langkahku menjadi pembuka dalam berkaca diri meninggalkan rangkakan masa lelap. Masa terbang bersama angin, melalang buana dan menyusuri awan. Bangkit! agar semua tak terulang sia-sia.”When once the risk has really been take, then the greatest danger is to risk too much”. Akupun harus meneguhkan hatiku, bahwa suatu saat kan kudapati apa yang telah kurencanakan. What you give you get back. (kau menuai apa yang kau tanam). Then, I’ll be astonished if I have seen it.


Wednesday, August 11, 2010

"sebuah makna"

DESA PONCOKRESNO, 18 Juli 2010
PUKUL. 20.55

Sebuah makna tak kan pernah terpatri dalam pesan yang disia-siakan, tapi aku tak mengerti tentang kesia-siaan itu. Apakah ia bisa menjadi serpihan kertas yang kosong, Yang bisa ditulis apapun oleh siapa saja yang menghendakinya. Cinta itu diantara semu yang menderu. Saat ini bukan bongkahan amarah yang menghalanginya mencuat keluar. Namun, sudut hatiku tetap menahanku, menyiksa rasa yang tak tereja.
Lalu kenapa aku harus menangis tanpa suara yang menerangkan maksud hatiku? Semua tak mampu kujawab dalam rangkaian kata yang tertangkap. Hanya biasan dari sisi wajah polos ini. Ya,,,mungkin orang lain tak akan menganggukkan kepala kepadaku sebagai arti kesepakatan.Kesepakatan dalam bayang-bayang dimensi hidup. Bagaimanapun anggapan mereka tentang hidupku bukanlah menjadi urusanku. Bukan urusanku? Aku melihat wajahmu mengerutkan kening,,,,hmmm masih menatapku tajam dengan penuh harap .Ya izinkan aku mengajakmu membaca relung ini. Tak ada maksud apa-apa. Hanya mencari sebuah makna yang sering di sia-siakan setiap insan. Tidak, bukan siang atau malam yang melandaskan makna itu. Sesuatu yang menjadikan apapun lebih baik hanyalah sebagai perantara.